Senin, 19 Desember 2011

Mama, suapi Ara Untuk kali ini saja


Mama, Suapi Ara Untuk Kali Ini Saja
Oleh Alfa Zahra Annisa

"Sebuah renuangan untuk para orang tua.
Bukan maksud menggurui, namun inilah fenomena yang sering  terjadi saat ini."


PLAKKKK!!! Sebuah tamparan mendarat di pipi kanan Bu Ratna. Mendapat perlakuan kasar itu, amarahnya semakin memuncak.
“ Sudahlah, aku lelah dengan semua ini! Selama ini Papa selalu mencurigaiku selingkuh dengan pria lain. Coba sadar diri! Siapa wanita yang semalam Papa ajak ke mall hahh?!”
“ Lancang kamu! Istri macam apa kamu? Beraninya menuduh orang tanpa bukti.”
“ Aku punya buktinya. Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Papa bersama seorang wanita di mall.”
Pertengkaran mereka semakin hebat. Itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Hampir tiap malam mereka beradu mulut. Tak jarang benda-benda di rumah itu ikut dibanting.
Gadis mungil yang usianya baru empat tahun hanya bisa menangis di gendongan mba’nya, sebutan untuk pembantu di rumah itu. Ia menyaksikan sendiri pertengkaran kedua orang tuanya, namun ia tak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia terlalu kecil untuk mengetahui masalah orang dewasa. Yang jelas, setiap malam bocah itu selalu menangis mendengar adu bentak yang dahsyat.
“ Mba, malam ini Ara bobo sama Mba lagi ya. Ara takut.” Gadis mungil itu semakin erat memeluk Mba Sumi yang masih menggendongnya.
“ Iya sayang. Boleh kok. Ara boleh tidur sama mba kapan saja Ara mau. Tapi Ara nggak kasihan sama Mama Ara? Mama Ara kan kepengin bobo sama Ara.”
“ Ara nggak mau bobo sama Mama. Mama sama Papa jahat. Ara takut dimarahin lagi sama mereka.”
Rupanya gadis itu masih ingat kejadian tiga hari lalu. Kedua orang tuanya tengah bertengkar, permasalahannya masih sama, seputar perselingkuhan. Ah, entahlah apa itu masalahnya, Ara nggak peduli. Saat itu Ara begitu merindukan mamanya. Seharian ia tinggal di rumah bersama si Mba. Tanpa mempedulikan suasana saat itu yang sedang panas, ia merengek minta disuapi mamanya. Ia ingin merasakan hangatnya kasih sayang seorang ibu, seperti teman-teman bermainnya yang sering disuapi ibunya.
Bukannya disambut, pipi anak itu malah ditampar keras oleh ibu kandungnya sendiri. Sontak ia menangis keras sekali. Bukannya sadar, sang ibu malah semakin emosi.
“ Dasar anak manja! Kamu bisa makan sendiri! Kamu harus mama hukum! Malam ini kamu nggak boleh tidur sama mama!” kata-kata itu masih terngiang jelas di telinga bocah polos itu.
“ Kamu lihat kan anakmu, masih sempat ya selingkuh? Kamu memang nggak becus jadi ibu!” Sang ayah ikut menimpali.
“ Papa yang selama ini terlalu memanjakan Ara! Akhirnya dia jadi anak manja.” Sang Ibu tak mau kalah.
Mba Sumi langsung menggendong Ara ke kamarnya. Pipi bocah itu merah lebam. Ia tak henti-hentinya menangis.
“ Kenapa ya mama jahat sama Ara? Ara kan cuma ingin disuapi mama.” Kalimat itu sering sekali diucapkannya.
Hari-hari Ara kini lebih sering dihabiskan untuk bermain barbie di kamar Mba Sumi. Tiada pilihan lain selain itu. Kalau ia bermain di luar, tentu saja ia akan melihat kemesaraan teman-temannya bersama ibu mereka. Hal itu akan membuatnya semakin cemburu.
Ara juga semakin enggan menemui kedua orang tuanya meskipun sebenarnya ia begitu menyayangi mereka. Bocah itu merasa kalau keberadaannya hanya mengganggu mereka.
“ Mba, kenapa sih mama sama papa marahan terus? Apa jangan-jangan karena Ara ya? Ara nakal ya Mba?”
“ Nggak sayang. Kamu nggak nakal. Ara kan anak baik. Papa sama mama Ara cuma kecapean. Mereka kan seharian cari uang buat Ara, kalau sudah dapat uang, nanti uangnya untuk beli permen. Ara mau kan dikasih permen?”
“ Tapi Ara nggak dikasih permen juga nggak papa. Ara nggak makan es krim lagi juga nggak papa. Ara kepenginnya disuapin sama mama, dicium mama, digendong mama. Ara kepengin kaya temen-temen Ara.”
Mba Sumi hanya bisa terharu. Ia iba melihat bocah itu yang haus kasih sayang orang tua. Kesibukan papa dan mama Ara bisa dibilang luar biasa. Mereka berangkat kerja sebelum Ara bangun, pulang saat Ara menjelang tidur. Apalagi setelah terjadi isu perselingkuhan di antara mereka, Ara dinomor sekiankan, bahkan tak pernah diurus lagi.
Sudah beberapa hari ini Ara sering mengeluh sakit di bagian perut dan punggungnya. Sebenarnya sakit itu sudah lama dirasakannya, tapi ia takut mengeluh, bisa-bisa malah dimarahi mama. Bocah itu rela menahan sakit luar biasa hanya karena takut pada mama yang sangat dicintainya.
Secara diam-diam, Mba Sumi membawa Ara ke rumah sakit. Setelah diperiksa, ternyata Ara mengidap kanker hati. Penyakit yang selama ini tak diketahui oleh satu orang pun di rumahnya. Kata dokter, kanker yang menggerogoti Ara sudah mencapai stadium lanjut. Satu-satunya langkah akhir hanyalah pencangkokan hati.
Bocah manis itu terbaring lemas di atas kasur rumah sakit. Sudah tiga hari ia terbaring lemas. Tiga hari pula ia menanti kedatangan mamanya yang masih ada kepentingan di luar kota.  Kemarin papa Ara memang sempat menjenguk, namun sebentar sekali. Katanya ada urusan yang lebih penting di kantor dengan mitra kerjanya.
“ Ara, buburnya dimakan dulu ya. Enak lho.” Mba Sumi berusaha merayu bocah itu agar mau makan.
“ Nggak mau. Pokoknya Ara mau makan kalau disuapi mama.” Perlahan air mata bocah itu meleleh. Ia  begitu rindu pada mamanya hingga tak kuasa menahan air mata.
“ Mba Sumi janji deh. Kali ini Mba Sumi yang suapi Ara. Tapi besok mamanya Ara yang nyuapi. Gimana? Ara mau kan?”
“ Tapi Mba sumi janji ya?”
“ Iya Sayang.”
Tanpa diduga oleh seorang pun, itu adalah hari terakhir Ara menghabiskan hidupnya yang baru sebentar di dunia. Operasi cangkok hatinya gagal. Papa Ara menangis tak henti-hentinya. Ia menyesal karena selama ini sering mengabaikan Ara, anak tunggalnya. Ia sengaja tak memberi tahu hal ini kepada istrinya yang sedang dalam perjalanan pulang. Ia khawatir kalau konsentrasinya pecah, sehingga membahayakan keselamatannya di jalan.
Mba Sumi menunggu Ara yang sedang dikafani. Ia duduk di luar ruang mayat dengan berlinangan air mata.
“ Mana Ara, Sum? Mana Ara?”  Seorang wanita datang dengan wajah begitu khawatir. Rupanya dia mama Ara. Ia membawa makanan kesukaan Ara.
 “ Ara ada di dalam, Nyonya.”
“ Ini kan ruang mayat, Sum. Apa yang terjadi pada Ara?”
Belum sempat Mba Sumi menjawab, wanita itu langsung masuk ke ruang mayat. Air matanya mengucur deras. Suaminya hanya berdiri terpaku melihat gadis mungil itu dibalut kain putih.
“ Ara, ini mama, sayang. Mama bawa makanan kesukaan kamu. Mama mau suapi kamu. Kamu sendiri kan yang minta disuapi mama. Sekarang mama ada di sini, Ara Sayang. Bangun, Nak.”
Wanita itu tersungkur ke lantai. Ia tak kuasa menghadapi kenyataan. Anak yang selama ini diabaikannya kini telah tiada. Di saat ia ingin menyuapinya, Allah lebih dulu mengambil Ara. Gadis manis yang tak berdosa.
Kebumen, 19 Desember 2011

Minggu, 18 Desember 2011

JUst for bunda


Teruntuk Ibu Tersayang
               Enam belas tahun lalu aku terlahir dari rahimmu
               Kau keluarkan segala peluh tanpa keluh
               Kau pertaruhkan satu-satunya nyawa
Wajah cemasmu berubah menjadi raut bahagia
Tatkala bayi mungil menangis memecah keheningan
Lahirlah sejuta harapan dan kebahagiaan
               Belasan tahun kau merawatnya
               Mengajarkannya kata, mengajarkannya dunia
               Kau perlihatkan padanya tentang hitam dan putih
Kala itu ia tak mengerti apa yang kau ajarkan
Namun, dengan tangan sucimu kau tetap bertahan
Engkau tetap sabar memberinya cinta
Bayi itu kini telah beranjak dewasa
Namun, ia belum bisa buatmu bahagia
Yang ada, Engkau hanya dibuat repot olehnya
Wejangan-wejanganmu lewat begitu saja
Tauladan yang kau berikan bagaikan angin lalu
Tak jarang, hatimu tercambuk oleh tingkah lakunya
               Wajah sucimu berusaha menutupi segala kesedihan
               Setiap pagi dan malam kau selalu mencemaskannya
               Menanyakan keadaannya
Tak sadarkah Engkau, ibu?
Perhatianmu terlalu berlebih padaku
Hingga dirimu sendiri Kau lupakan
               Apa yang kuberikan tak seberapa
               Aku hanya bisa buatmu lara
               Aku hanya bisa buatmu kecewa
Doa-doamu tiap malam tak henti-hentinya Kau panjatkan
Kau minta pada Tuhan
“ Ya Allah, semoga anakku menjadi anak yang shalehah”
               Ibu, sungguh...
               Entah dengan apa harus kuungkapkan
               Kasih sayangmu terlalu besar
               Cintamu terlalu tulus
               Budimu, tak akan pernah terbalaskan....
(Ya Allah, Engkaulah yang mampu membalas segala cinta kasihnya. Tempatkanlah dia bersama para wanita penghulu surga. Amin)

Sabtu, 17 Desember 2011

Well, aku mau sedikit share sama kalian yang baca postingan-ku ini.

Seringkali aku tanya-tanya sama temen, sebenernya cuma iseng tanya sih. "Cita-citamu apa?" Mereka jawab, "aku pengen jadi A," "aku pengen jadi B". Semuanya fine-fine aja. Tapi aku heran, beberapa orang mempermasalahkan cita-citaku. 

Saat aku bilang "mungkin aku akan jadi guru SD", beberapa di antaranya ada yang bilang " JANGAN". "Mending kamu jadi dokter, atau dosen mungkin, bla bla bla". Dan aku mendengar kalimat seperti itu bukan hanya sekali. Bahkan ada yang bilang "Zah, bercita-citalah setinggi langit". Lalu, apakah menjadi "GURU SD" bukan cita-cita yang melangit? Aku sendiri bingung, toh, guru adalah sebuah cita-cita yang mulia.

Mungkin, selama ini finansial menjadi pertimbangan utama. Di mata beberapa orang guru masih menjadi pekerjaan "low fee". Namun, bagiku menjadi seorang guru adalah sebuah pengabdian luar biasa. Semua pekerjaan mulia, dan kurasa aku berhak memilih mana pun yang aku suka. 

Teman, menjadi guru bukan pekerjaan mentereng. Menjadi guru juga bukan pekerjaan yang gemerlap. Tak ada kerlap-kerlip lampu sorot yang memancar, juga pendar-pendar cahaya setiap kali guru-guru itu sedang membaktikan diri. Sebab mereka memang bukan para pesohor, bukan pula bintang panggung.

Namun, ada sesuatu yang mulia disana. Pada guru lah ada kerlap-kerlip cahaya kebajikan dalam setiap nilai yang mereka ajarkan. Lewat guru lah memancar pendar-pendar sinar keikhlasan dan ketulusan pada kerja yang mereka lakukan. Merekalah sumber cahaya-cahaya itu, yang menyinari setiap hati anak-anak didik mereka.

Dari gurulah kita belajar mengeja kata dan kalimat. Pada gurulah kita belajar lamat-lamat bahasa dunia. Lewat guru, kita belajar budi pekerti, belajar mengasah hati, dan menyelami nurani. Lewat guru pula kita mengerti tentang banyak hal-hal yang tak kita pahami sebelumnya. Tak berlebihankah jika kita menyebutnya sebagai pekerjaan yang mulia?

Teman, jika ingin merasakan pengalaman batin yang berbeda, cobalah menjadi guru. Rasakan kenikmatan saat setiap anak-anak itu memanggil Anda dengan sebutan itu, dan biarkan mata penuh perhatian itu memenuhi hati Anda. Ada sesuatu yang berbeda disana. Cobalah. Rasakan.

Rabu, 19 Oktober 2011

KARENA WANITA ...



 
Cinta adalah fitrah manusia. Cinta juga salah satu bentuk kesempurnaan penciptaan yang Allah berikan kepada manusia. Allah menghiasi hati manusia dengan perasaan cinta pada banyak hal. Salah satunya cinta seorang lelaki kepada seorang wanita, demikian juga sebaliknya.

Rasa cinta bisa menjadi anugerah jika luapkan sesuai dengan bingkai nilai-nilai ilahiyah. Namun, perasaan cinta dapat membawa manusia ke jurang kenistaan bila diumbar demi kesenangan semata dan dikendalikan nafsu liar.

Islam sebagai syariat yang sempurna, memberi koridor bagi penyaluran fitrah ini. Apalagi cinta yang kuat adalah salah satu energi yang bisa melanggengkan hubungan seorang pria dan wanita dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Karena itu, seorang pria shalih tidak asal dapat dalam memilih wanita untuk dijadikan pendamping hidupnya.

Ada banyak faktor yang bisa menjadi sebab munculnya rasa cinta seorang pria kepada wanita untuk diperistri. Setidak-tidaknya seperti di bawah ini.

1. Karena akidahnya yang Shahih

Keluarga adalah salah satu benteng akidah. Sebagai benteng akidah, keluarga harus benar-benar kokoh dan tidak bisa ditembus. Jika rapuh, maka rusaklah segala-galanya dan seluruh anggota keluarga tidak mungkin selamat dunia-akhirat. Dan faktor penting yang bisa membantu seorang lelaki menjaga kekokohan benteng rumah tangganya adalah istri shalihah yang berakidah shahih serta paham betul akan peran dan fungsinya sebagai madrasah bagi calon pemimpin umat generasi mendatang.

Allah menekankah hal ini dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah: 221)

2. Karena paham agama dan mengamalkannya

Ada banyak hal yang membuat seorang lelaki mencintai wanita. Ada yang karena kemolekannya semata. Ada juga karena status sosialnya. Tidak sedikit lelaki menikahi wanita karena wanita itu kaya. Tapi, kata Rasulullah yang beruntung adalah lelaki yang mendapatkan wanita yang faqih dalam urusan agamanya. Itulah wanita dambaan yang lelaki shalih.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, ambillah wanita yang memiliki agama (wanita shalihah), kamu akan beruntung.” (Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw. juga menegaskan, “Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita yang shalihah.” (Muslim, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

Jadi, hanya lelaki yang tidak berakal yang tidak mencintai wanita shalihah.

3. Dari keturunan yang baik

Rasulullah saw. mewanti-wanti kaum lelaki yang shalih untuk tidak asal menikahi wanita. “Jauhilah rumput hijau sampah!” Mereka bertanya, “Apakah rumput hijau sampah itu, ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Wanita yang baik tetapi tinggal di tempat yang buruk.” (Daruquthni, Askari, dan Ibnu ‘Adi)

Karena itu Rasulullah saw. memberi tuntunan kepada kaum lelaki yang beriman untuk selektif dalam mencari istri. Bukan saja harus mencari wanita yang tinggal di tempat yang baik, tapi juga yang punya paman dan saudara-saudara yang baik kualitasnya. “Pilihlah yang terbaik untuk nutfah-nutfah kalian, dan nikahilah orang-orang yang sepadan (wanita-wanita) dan nikahilah (wanita-wanitamu) kepada mereka (laki-laki yang sepadan),” kata Rasulullah. (Ibnu Majah, Daruquthni, Hakim, dan Baihaqi).

“Carilah tempat-tempat yang cukup baik untuk benih kamu, karena seorang lelaki itu mungkin menyerupai paman-pamannya,” begitu perintah Rasulullah saw. lagi. “Nikahilah di dalam “kamar” yang shalih, karena perangai orang tua (keturunan) itu menurun kepada anak.” (Ibnu ‘Adi)

Karena itu, Utsman bin Abi Al-’Ash Ats-Tsaqafi menasihati anak-anaknya agar memilih benih yang baik dan menghindari keturunan yang jelek. “Wahai anakku, orang menikah itu laksana orang menanam. Karena itu hendaklah seseorang melihat dulu tempat penanamannya. Keturunan yang jelek itu jarang sekali melahirkan (anak), maka pilihlah yang baik meskipun agak lama.”

4. Masih gadis

Siapapun tahu, gadis yang belum pernah dinikahi masih punya sifat-sifat alami seorang wanita. Penuh rasa malu, manis dalam berbahasa dan bertutur, manja, takut berbuat khianat, dan tidak pernah ada ikatan perasaan dalam hatinya. Cinta dari seorang gadis lebih murni karena tidak pernah dibagi dengan orang lain, kecuali suaminya.

Karena itu, Rasulullah saw. menganjurkan menikah dengan gadis. “Hendaklah kalian menikah dengan gadis, karena mereka lebih manis tutur katanya, lebih mudah mempunyai keturunan, lebih sedikit kamarnya dan lebih mudah menerima yang sedikit,” begitu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi.

Tentang hal ini A’isyah pernah menanyakan langsung ke Rasulullah saw. “Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau turun di sebuah lembah lalu pada lembah itu ada pohon yang belum pernah digembalai, dan ada pula pohon yang sudah pernah digembalai; di manakah engkau akan menggembalakan untamu?” Nabi menjawab, “Pada yang belum pernah digembalai.” Lalu A’isyah berkata, “Itulah aku.”

Menikahi gadis perawan akan melahirkan cinta yang kuat dan mengukuhkan pertahanan dan kesucian. Namun, dalam kondisi tertentu menikahi janda kadang lebih baik daripada menikahi seorang gadis. Ini terjadi pada kasus seorang sahabat bernama Jabir.

Rasulullah saw. sepulang dari Perang Dzat al-Riqa bertanya Jabir, “Ya Jabir, apakah engkau sudah menikah?” Jabir menjawab, “Sudah, ya Rasulullah.” Beliau bertanya, “Janda atau perawan?” Jabir menjawab, “Janda.” Beliau bersabda, “Kenapa tidak gadis yang engkau dapat saling mesra bersamanya?” Jabir menjawab, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah gugur di medan Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan. Karena itu aku menikahi wanita yang dapat mengurus mereka.” Nabi bersabda, “Engkau benar, insya Allah.”

5. Sehat jasmani dan penyayang

Sahabat Ma’qal bin Yasar berkata, “Seorang lelaki datang menghadap Nabi saw. seraya berkata, “Sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang baik dan cantik, namun ia tidak bisa melahirkan. Apa sebaiknya aku menikahinya?” Beliau menjawab, “Jangan.” Selanjutnya ia pun menghadap Nabi saw. untuk kedua kalinya, dan ternyata Nabi saw. tetap mencegahnya. Kemudian ia pun datang untuk ketiga kalinya, lalu Nabi saw. bersabda, “Nikahilah wanita yang banyak anak, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain.” (Abu Dawud dan Nasa’i).

Karena itu, Rasulullah menegaskan, “Nikahilah wanita-wanita yang subur dan penyayang. Karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya kalian dari umat lain.” (Abu Daud dan An-Nasa’i)

6. Berakhlak mulia

Abu Hasan Al-Mawardi dalam Kitab Nasihat Al-Muluk mengutip perkataan Umar bin Khattab tentang memilih istri baik merupakan hak anak atas ayahnya, “Hak seorang anak yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya. Yaitu seorang wanita yang mempunyai kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak mulia, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna serta mematuhi suaminya dalam segala keadaan.”

7. Lemah-lembut

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari A’isyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Wahai A’isyah, bersikap lemah lembutlah, karena sesungguhnya Allah itu jika menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga, maka Allah menunjukkan mereka kepada sifat lembah lembut ini.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah memasukkan sifat lemah lembut ke dalam diri mereka.”

8. Menyejukkan pandangan

Rasulullah saw. bersabda, “Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? (Yaitu) wanita shalihah adalah wanita yang jika dilihat oleh suaminya menyenangkan, jika diperintah ia mentaatinya, dan jika suaminya meninggalkannya ia menjaga diri dan harta suaminya.” (Abu daud dan An-Nasa’i)

“Sesungguhnya sebaik-baik wanitamu adalah yang beranak, besar cintanya, pemegang rahasia, berjiwa tegar terhadap keluarganya, patuh terhadap suaminya, pesolek bagi suaminya, menjaga diri terhadap lelaki lain, taat kepada ucapan dan perintah suaminya dan bila berdua dengan suami dia pasrahkan dirinya kepada kehendak suaminya serta tidak berlaku seolah seperti lelaki terhadap suaminya,” begitu kata Rasulullah saw. lagi.

Maka tak heran jika Asma’ binti Kharijah mewasiatkan beberapa hal kepada putrinya yang hendak menikah. “Engkau akan keluar dari kehidupan yang di dalamnya tidak terdapat keturunan. Engkau akan pergi ke tempat tidur, di mana kami tidak mengenalinya dan teman yang belum tentu menyayangimu. Jadilah kamu seperti bumi bagi suamimu, maka ia laksana langit. Jadilah kamu seperti tanah yang datar baginya, maka ia akan menjadi penyangga bagimu. Jadilah kamu di hadapannya seperti budah perempuan, maka ia akan menjadi seorang hamba bagimu. Janganlah kamu menutupi diri darinya, akibatnya ia bisa melemparmu. Jangan pula kamu menjauhinya yang bisa mengakibatkan ia melupakanmu. Jika ia mendekat kepadamu, maka kamu harus lebih mengakrabinya. Jika ia menjauh, maka hendaklah kamu menjauh darinya. Janganlah kami menilainya kecuali dalam hal-hal yang baik saja. Dan janganlah kamu mendengarkannya kecuali kamu menyimak dengan baik dan jangan kamu melihatnya kecuali dengan pandangan yang menyejukan.”

9. Realistis dalam menuntut hak dan melaksanakan kewajiban

Salah satu sifat terpuji seorang wanita yang patut dicintai seorang lelaki shalih adalah qana’ah. Bukan saja qana’ah atas segala ketentuan yang Allah tetapkan dalam Al-Qur’an, tetapi juga qana’ah dalam menerima pemberian suami. “Sebaik-baik istri adalah apabila diberi, dia bersyukur; dan bila tak diberi, dia bersabar. Engkau senang bisa memandangnya dan dia taat bila engkau menyuruhnya.” Karena itu tak heran jika acapkali melepas suaminya di depan pintu untuk pergi mencari rezeki, mereka berkata, “Jangan engkau mencari nafkah dari barang yang haram, karena kami masih sanggup menahan lapar, tapi kami tidak sanggup menahan panasnya api jahanam.”

Kata Rasulullah, “Istri yang paling berkah adalah yang paling sedikit biayanya.” (Ahmad, Al-Hakim, dan Baihaqi dari A’isyah r.a.)

Tapi, “Para wanita mempunyai hak sebagaimana mereka mempunyai kewajiban menurut kepantasan dan kewajaran,” begitu firman Allah swt. di surah Al-Baqarah ayat 228. Pelayanan yang diberikan seorang istri sebanding dengan jaminan dan nafkah yang diberikan suaminya. Ini perintah Allah kepada para suami, “Berilah tempat tinggal bagi perempuan-perempuan seperti yang kau tempati. Jangan kamu sakiti mereka dengan maksud menekan.” (At-Thalaq: 6)

10. Menolong suami dan mendorong keluarga untuk bertakwa

Istri yang shalihah adalah harta simpanan yang sesungguhnya yang bisa kita jadikan tabungan di dunia dan akhirat. Iman Tirmidzi meriwayatkan bahwa sahabat Tsauban mengatakan, “Ketika turun ayat ‘walladzina yaknizuna… (orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah), kami sedang bersama Rasulullah saw. dalam suatu perjalanan. Lalu, sebagian dari sahabat berkata, “Ayat ini turun mengenai emas dan perak. Andaikan kami tahu ada harta yang lebih baik, tentu akan kami ambil”. Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Yang lebih utama lagi adalah lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri shalihah yang akan membantu seorang mukmin untuk memelihara keimanannya.”

11. Mengerti kelebihan dan kekurangan suaminya

Nailah binti Al-Fafishah Al-Kalbiyah adalah seorang gadis muda yang dinikahkan keluarganya dengan Utsman bin Affan yang berusia sekitar 80 tahun. Ketika itu Utsman bertanya, “Apakah kamu senang dengan ketuaanku ini?” “Saya adalah wanita yang menyukai lelaki dengan ketuaannya,” jawab Nailah. “Tapi ketuaanku ini terlalu renta.” Nailah menjawab, “Engkau telah habiskan masa mudamu bersama Rasulullah saw. dan itu lebih aku sukai dari segala-galanya.”

12. Pandai bersyukur kepada suami

Rasulullah saw. bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada suaminya, sedang ia sangat membutuhkannya.” (An-Nasa’i).

13. Cerdas dan bijak dalam menyampaikan pendapat

Siapa yang tidak suka dengan wanita bijak seperti Ummu Salamah? Setelah Perjanjian Hudhaibiyah ditandatangani, Rasulullah saw. memerintahkan para sahabat untuk bertahallul, menyembelih kambing, dan bercukur, lalu menyiapkan onta untuk kembali pulang ke Madinah. Tetapi, para sabahat tidak merespon perintah itu karena kecewa dengan isi perjanjian yang sepertinya merugikan pihak kaum muslimin.

Rasulullah saw. menemui Ummu Salamah dan berkata, “Orang Islam telah rusak, wahai Ummu Salamah. Aku memerintahkan mereka, tetapi mereka tidak mau mengikuti.”

Dengan kecerdasan dalam menganalisis kejadian, Ummu Salamah mengungkapkan pendapatnya dengan fasih dan bijak, “Ya Rasulullah, di hadapan mereka Rasul merupakan contoh dan teladan yang baik. Keluarlah Rasul, temui mereka, sembelihlah kambing, dan bercukurlah. Aku tidak ragu bahwa mereka akan mengikuti Rasul dan meniru apa yang Rasul kerjakan.”

Subhanallah, Ummu Salamah benar. Rasulullah keluar, bercukur, menyembelih kambing, dan melepas baju ihram. Para sahabat meniru apa yang Rasulullah kerjakan. Inilah berkah dari wanita cerdas lagi bijak dalam menyampaikan pendapat. Wanita seperti inilah yang patut mendapat cinta dari seorang lelaki yang shalih.
 

Akhwat Dambaan Umat

Dia menutup aurat sesuai syariat
Dia ikhlash dalam segala perkara
Dia rajin beribadah
Dia pengikut sunnah Rasulullah
Dia seorang yang rendah hati
Dia mempunyai sifat keibuan
Dia beramar ma’ruf nahi mungkar
Dia dilahirkan di lingkunggan taqwa
Dia berbakti kepada orang tua
Dia berjuang menegakkan islam
Dia seorang penyayang
Dia pandai bergaul
Dia berjalan dengan menundukkan pandangan
Dia pintar dalam segala hal
Dia hafal beberapa juz dalam Al-Qur’an
Dia halus dalam berbicara
Dia sangat menjaga kehormatannya
Dia sangat berhati-hati dengan lawan jenis
Dia bersemangat untuk belajar ilmu agama
Dia selalu bersama Al-Qur’an dimanapun dia berada
Dia sangat zuhud
Dia mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan
Dia tidak sombong
Dia tidak berbangga diri
Dia dicari oleh semua ikhwan yang sholeh untuk dinikahi
Dia akhwat dambaan umat
By:Ihsanadiputra